Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Makalah Raja Kecik Siak

makalah raja kecik siak, sultan abdul jalil, sultan mahmudsyah II


KATA PENGANTAR

MAKALAH RAJA KECIK SIAK

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa, yang atas rahmat-Nya maka kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah Raja Kecik Siak. Dasar penulisan makalah sebagai salah satu tugas dan persyaratan untuk menyelesaikan tugas mata pelajaran Mulok Semester I di Konoha Gakure.

Dalam penulisan makalah makalah raja kecik siak ini, kami merasa masih banyak kekurangan-kekurangan, baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang kami miliki. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini.

Dalam makalah ini kami akan membahas bagaimana sejarah raja kecik siak mulai dari beliau dilahirkan kemudian merebut kesultanan johor bahkan sampai beliau membangun kerjaan siak sri inderapura. Dalam makalah ini kami juga akan membahas mengenai masa kecil raja kerajaan siak siak dan wafatnya beliau.

Akhirnya kami berharap semoga makalah ini membantu teman-teman mengetahui secara garis besar tentang Sejarah Raja Kecik Siak. Terimakasih kami ucapkan atas waktunya untuk membaca makalah raja kecik siak ini.

BAB I

PENDAHULUAN

SEJARAH KERAJAAN SIAK

1.1 Latar Belakang

Kerajaan Siak sri inderapura merupakan istana yang berdiri pada tahun 1889 semasa kejayaan Raja Sultan Syarif Hasyim ayahanda dari sultan Syarif Kasim sebagai raja terakir yang  menjadi pahlawan nasional. Istana kerajaan Siak adalah sebuah kerajaan Melayu islam yang terbesar di Riau, yang mencapai masa jayanya pada abad ke 16 sampai abad ke 20.

Konon nama Siak berasal dari nama tumbuh-tumbuhan yaitu siak-siak yang banyak terdapat di situ. Kerajaan Siak Sri Indrapura didirikan Setelah Raja Kecik dewasa, pada tahun 1723 M oleh Raja Kecik yang bergelar Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah putera Raja Johor (Sultan Mahmud Syah) dengan istrinya Encik Pong, dengan pusat kerajaan berada di Buantan. Setelah Raja Kecik dewasa, pada tahun 1717 Raja Kecik berhasil merebut tahta Johor.

Tetapi tahun 1722 Kerajaan Johor tersebut direbut kembali oleh Tengku Sulaiman ipar Raja Kecik yang merupakan putera Sultan Abdul Jalil Riayat Syah. Dalam silsilah Sultan-sultan Kerajaan Siak Sri Indrapura dimulai pada tahun 1725 dengan 12 sultan yang pernah bertahta. Di tahun 1724-1726 Sultan Abdul Jalil melakukan perluasan wilayah dimulai dengan memasukan Rokan ke dalam wilayah Kesultanan Siak, membangun pertahanan armada laut di Bintan bahkan di tahun 1740-1745 menaklukan beberapa kawasan di Kedah.

2.2 Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dari makalah raja kecik siak ini adalah sebagai berikut.
  1. Bagaimana Sejarah Lahirnya Raja Kecik Siak?
  2. Bagaimana Masa Kecil Raja Kecik Siak?
  3. Bagaimana Proses Penaklukan Kesultanan Johor oleh Raja Kecik Siak?
  4. Bagaimana Proses Penaklukan Kembali Kesultanan Johor Oleh Raja Sulaiman?
  5. Bagaimana Penyelesaian perselisihan antara Melayu-Bugis?
  6. Bagaimana Sejarah Kerajaan Siak Sri Inderapura?
  7. Bagaimana Wafatnya Raja Kecik Siak?

BAB II
PEMBAHASAN

MAKALAH RAJA KECIK SIAK 

 
sejarah kerjaan siak, masa kejayaan kerajaan siak, runtuhnya kerajaan siak

A.  Lahirnya Raja Kecik Siak

Sebelum berdirinya Kerajaan Siak II pada tahun 1723 oleh Sultan Abdul Jalil Rachmad Syah yang di Pertuan Raja Kecil yang pusat pemerintahannya di Kota Buantan, kawasan Siak sampai batas Minang kabau dan pantai Timur Pulau Sumatera dibawah kekuasaan Kerajaan Johor sebagai penerus imperium Melaka. Kerajaan Gasib merupakan Kerajaan Siak I yang berkedudukan di Sungai Gasib di HuluSungaiSiak.
 
Kerajaan ini adalah pecahan Kerajaan Sriwijaya yang berpusat di Muara Takus. Raja yang terakhir dari Kerajaan Gasib ini yang telah beragama islam adalah Sultan Hasan yang ditabalkan menjadi Raja oleh Sultan Johor. Kerajaan Siak I berakhir kekuasaannya pada tahun 1622 M. Selama 100 tahun negeri ini tidak mempunyai raja, untuk mengawasi negeri ini ditunjuk seorang Syahbandar yang berkedudukan di Sabak Auf dikuala sungai siak dengan tugas memungut cukai hasil hutan, timah dan hasil laut di kawasan Kerajaan Johor.
 
Pada permulaan tahun 1622 Sultan Mahmud Syah. H, Sultan Johor Ayahanda Raja Kecil dibunuh oleh Megat Sri Rama sewaktu pulang dari Sholat Jum’at. Kerjaan Johor diambil alih oleh Datuk Bendahara Tun Hebab dean mengangkat dirinya sebagai raja Johor memakai gelar Sultan Abdul Jalil Riayat Syah (1699-1719). Keluarga Sultan Mahmud Syah II dikejar dan dibunuh, termasuk orang-orang besar Kerajaan, dayang-dayang serta pengikut setia, maksudnya untuk menghilangkan keturunan Sultan Mahmud Syah II.
 
Tindakan ini bukanlah menambah kewibawaan dan kekuasaan tetapi sebaliknya timbul kebencian serta kekacauan dimana-mana di Negeri Johor dan daerah taklukannya. Beberapa daerah taklukannya melepaskan diri seperti: Indragiri, Kampar, Kedah, Kelantan, Trenggano dan Petani. Orang Minangkabau, Bugis, yang hidup sebagai pengembara memusuhi Sultan termasuk orang-orang Melayu di Petani.
 
Ketika Peristiwa itu isteri Mahmud Syah II tengah hamil dan dilarikan ke  singapura dan kemudian ke jambi, Dalam Perjalanan lahirlah raja kecik siak dan kemudian dibesarkan dikerajaan paggaruyung minangkabau.

B. Masa Kecil Raja Kecik Siak

Di Pagaruyung Raja Kecil dididik dan dibesarkan sebagai anak Raja sehingga mendapat pengetahuan menangani pemerintahan, agama, adat istiadat, kemiliteran dan bela diri.
                                                                                                                                                             Setelah itu maka Raja Kecil tiada berhenti daripada menuntut ilmu dunia akhirat, tiada meninggalkan sembahyang dan terdekat dengan guru agama dan guru-guru dunia dan bercampur dengan orang besar yang bijaksana. Raja Kecil menuntut bela atas kematian ayahandanya, merebut kembali tahta Kerajaan Johor. Raja Kecil mempersiapkan kekuatan untuk menyerang Johor dengan mendapat bantuan orang Batu Bara yang berasal dari Minang kabau, Orang-orang Melayu Pesisir di Tanah Putih dan Kubu. DiBengkalis Raja Kecil mengatur kekuatan dan mendapat bantuan dari orang-orang Minang kabau yang ada disana serta orang Melayu yang setia dengan Sultan Mahmud Syah II.
 
Ketika usia kecil, baginda Raja Kecil telah dilarikan oleh pembesar baginda ke Pagar Ruyung. Anak perempuan pembesar itu telah diperisterikan oleh Sultan Mahmud Shah II dan mendapat Raja Kecil ini. Oleh kerana haru-biru dalam istana gara-gara perilaku ganjil sultan maka pembesar itu menyelamatkan cucunya (Raja Kecil). 
 
Di Pagar Ruyung, Raja Kecil telah disusukan oleh Puteri Jamilan, iaitu ibu kepada pemerintah Pagar Ruyung ketika itu. Secara tidak langsung Raja kecil merupakan saudara sesusu dengan pemerintah Pagar Ruyung (namanya dipercayai Yang Dipertuan Pagar Ruyung Raja Alam Indermashah, kemudian mendirikan Kesultanan Siak Sri Inderapura). Puteri Jamilan sewaktu mengambil Raja Kecil semangat anak angkat pernah seraya berkata: "terlalu kasihan aku akan dia, kerana tiada bapaknya".
 
Pada usia 13 tahun, Raja Kecil telah meminta keizinan Puteri Jamilan untuk keluar mencari ilmu. Baginda telah berkhidmat dengan pemerintah Palembang dan kembali semula ke Pagar Ruyung.[1] Setibanya pulang, Puteri Jamilan bertanya kepadanya, seraya berkata "Mengapa engkau lama di laut?", Raja Kecil menjawab "menengok cupak gantang orang".
 
Balasan perkataan ini menggambarkan refleksi atau metafora bahawa baginda terlibat dalam aktiviti sukat imbang perdagangan laut, menguatkan bukti bahawa pemerintah Pagar Ruyung mempunyai hubung akrab perdagangan dengan kerajaan serantau khususnya Minangkabau dan Palembang.
 
Puteri Jamilan menasihati supaya Raja Kecil pergi mengembara lagi, kali ini mencadangkan baginda pergi ke Siak untuk merampas Johor dan membalas dendam bagi pihak ayandanya Sultan Mahmud Shah II.
 
Baginda Raja Kecil kemudiannya ditabalkan sebagai pemerintah Pagar Ruyung dan mendapat kemulian alat kebesaran Minangkabau.

C. Penaklukan Kesultanan Johor Oleh raja kecik Siak

Raja Kecil mempersiapkan kekuatan untuk menyerang Johor dengan mendapat bantuan orang Batu Bara yang berasal dari Minang kabau, Orang-orang Melayu Pesisir di Tanah Putih dan Kubu. DiBengkalis Raja Kecil mengatur kekuatan dan mendapat bantuan dari orang-orang Minang kabau yang ada disana serta orang Melayu yang setia dengan Sultan Mahmud Syah II.
 
Sewaktu pemerintahan Sultan Abdul Jalil IV, keadaan agak kacau karena  pembesar-pembesar Kesultanan Johor bersikap tamak, khianat dan cemburu. Hal ini  memberi peluang kepada Raja Kecil untuk menyerang Johor. Pada tahun  1717, Raja Kecil dan pasukan dari Siak yang terdiri dari  petualang-petualang Minangkabau menyerang Johor.                                                         
 
Pada 21 Maret 1718,  Raja Kecil menawan Panchor. Raja Kecil mengangkat sendiri dirinya  sebagai Yang Dipertuan Johor dan bergelar Sultan Abdul Jalil Rahmat  Shah. Walaupun begitu, beliau masih mengijinkan Sultan Abdul Jalil IV  menetap di Johor dengan jabatan sebagai bendahara tanpa memiliki  kekuasaan. Kemenangan Raja Kecil berkat bantuan pembesar Johor sendiri  yang meyakini bahwa Raja Kecil adalah pewaris sultan.
 
Pada tahun 1719, kudeta terhadap Sultan Abdul Jalil IV dan anaknya  Raja Sulaiman dan Tun Abas yang bermarkas di Seluyut gagal. Dengan  kejadian itu, Sultan Abdul Jalil IV lari ke Kuala Pahang. Raja Kecil  memerintahkan Laksamana Nakhoda Sekam pergi ke Kuala Pahang untuk  membunuh Sultan Abdul Jalil IV.                                                
 
Namun sayangnya  kekuasaan Raja Abdul Jalil Rahmad Syah tidak bertahan lama karena anak  Sultan Abduljalil Riayat Syah yaitu raja Sulaiman sudah menyusun siasat untuk merebut kembali kesultanan johor dari tangan Sultan Abdul Jalil Rahmad Syah.

D. Penaklukan Kembali Kesultanan Johor Oleh Raja Sulaiman

Pemerintahan Raja Kecil tidak bertahan lama di Kerajaan Johor, karena Daeng Parani sangat marah dan dendam serta ditambah pula hasutan Tengku Tengan yang semula bakal menjadi isteri Raja Kecil sebagai permaisuri Kerajaan Johor gagal, karena Raja Kecil sangat senang dengan adiknya yaitu Tengku Kamariyah.
 
Akhirnya Tengku Kamariyah menjadi permaisuri Kerajaan Johor isteri Raja Kecil. Daeng Parani, Tengku Sulaiman dan Tengku Tengah bersepakat untuk merebut kembali kekuasaan Raja Kecil di Johor. Terjadilah perang saudara anatar Raja Kecil sepihak dengan Tengku Sulaiman, sedangkan Tengku Tengah dan Daeng Parani dengan pengikutnya orang-orang Bugis membantu Sultan Sulaiman.
 
Pada akhirnya, kemenangan ada pada pihak Tengku Sulaiman. Tengku Sulaiman kemudian dilantik menjadi Sultan pada tanggal 4 Oktober 1722 dengan gelar Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah, yang berkedudukan sebagai Yang Dipertuan Besar I. Pusat pemerintahan kesultanan pada saat pelantikan berkedudukan di Riau tepatnya di Sungai Carang (sekarang termasuk dalam wilayah Kota Tanjungpinang).
 
Pelantikannya menjadi catatan sejarah penting dalam perjalanan Kerajaan Riau Johor Pahang Lingga, karena diiringi dengan sebuah “sumpah setia” antara pihak Bugis (Opu-Opu Bugis Lima Bersaudara) dengan Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah. Berdasakan “sumpah setia” tersebut, Sultan berkedudukan sebagai Yang Dipertuan Besar.
 
Sedangkan pihak Bugis (Opu-Opu Bugis Lima Bersaudara) diberikan kedudukan sebagai Yang Dipertuan Muda. Sehingga sejak itu, muncul sebuah konsep pemerintahan yang modern karena segala segala kebijakan pelaksanaan pemerintahan tetap berada di tangan Sultan, namun roda pemerintahan dilaksanakan oleh Yang Dipertuan Muda. Berturut-turut pemegang jabatan Yang Dipertuan Muda pada masa pemerintahan Sultan Sulaiman adalah Daeng Marewa (1722-1729), Daeng Celak (1729-1749), Daeng Kamboja (1749-1777).
 
Dengan sistem pemerintahan seperti itu, banyak pembesar Melayu merasakan dominan Bugis di dalam pemerintahan tersebut sehingga sering timbul konflik internal di kalangan pemerintahan pada waktu itu. Pembesar Melayu mendesak agar Sultan mengurangi dominan Bugis. Maka dalam masa pemerintahannya seringkali terjadi konflik internal antara Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah dengan pihak Bugis.
 
Konflik internal itu berakhir setelah diadakan perdamaian antara Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah dengan Daeng Kamboja pada tanggal 1 Desember 1759 dimana kedudukan pihak Bugis diakui kembali sebagai Yang Dipertuan Muda. Bugis juga mengakui bahwa segala kebijakan pelaksanaan pemerintahan tetap berada di tangan Sultan.
 
Dalam perkembangannya pembauran antara Sultan (Melayu) dengan pihak Bugis (Opu-Opu Bugis Lima Bersaudara) tidak hanya dalam kekuasaan pemerintahan saja tetapi juga terwujud melalui pernikahan antaretnik Melayu dan Bugis bahkan juga dengan etnik lainnya.
 
Tidak lama setelah perdamaian antara Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah dengan Daeng Kamboja pada tanggal 1 Desember 1759 itu Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah wafat. Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah wafat pada tahun 1760, setelah memegang peranan sebagai Sultan Yang Dipertuan Besar I selama 38 tahun, disebut dengan Marhum Batangan.
 
Beliau dimakamkan di Kampung Bulang Km. 6 Kelurahan Kampung Bulang Kecamatan Tanjungpinang Timur, tepatnya di pinggir Sungai Carang Batu 6. Kompleks yang panjangnya dan lebarnya sama (13,20 meter) ini, selain terdapat makam Sultan Sulaiman itu sendiri, juga 15 makam lainnya. Dari ke-15 itu, 5 diantaranya berukuran besar, sedangkan selebihnya berukuran kecil.
 
Adapun nama dari lima bugis bersaudara yang bersekutu dengan raja sulaiman untuk menaklukan kesultanan Johor ialah Opu Daeng parani, Opu Daeng Menambun, Opu Daeng marewah, Opu  Daeng Chelak, dann Opu daeng Kemasi.

E. Perselisihan Melayu-Bugis

Manuskrip Tuhfat al Nafis banyak menggambarkan situasi hubungan antara suku Bugis dengan suku Melayu. Namun teks ini lebih menonjolkan kelebihan kekuatan di pihak Bugis dan seringkali menggambarkan suku Melayu sebagai pihak yang mencetuskan kekacauan dan pergeseran.
 
Suku Melayu dengan suku Bugis sebenarnya telah membuat beberapa kali perjanjian di antara mereka. Perjanjian itu biasanya dilaksanakan ataupun diperbaharuhi apabila seorang Yang Dipertuan Muda baru dilantik. Di dalam manuskrip Aturan Satiya Bugis dengan Melayu disebutkan perjanjian-perjanjian yang berlaku tersebut.
 
Perjanjian yang pertama, misalnya berlaku selepas pelantikan Yang Dipertuan Muda yang pertama pada tahun 1722. Perjanjian ini diantaranya menyebutkan bahwa kedua belah pihak mengaku bersaudara dan setuju untuk bergabung di dalam satu kerajaan. Perjanjian ini dikenal dengan “Persetiaan Marhum di Sungai aru”.
 
Perjanjian yang kedua terjadi pada tahun 1728 yaitu selepas pelantikan pelantikan Daeng Cellak sebagai Yang dipertuan Muda Kedia Kerajaan Johor Riau. Disebutkan dalam Aturan Satiya Bugis dengan Melayu bahwa pelaksanaan perjanjian itu juga dihadiri oleh Sultan Sulaiman, Yang Dipetuan Muda, bendahara, Raja Indera Bongsu dan semua pembesar dari suku Melau maupun Bugis. Pokok Utama dalam perjanjian itu adalah :
 
…..tun kepada Bugis melainkan tuanlah kepada Melayu dan jikaulau tuan kepada Melayu melainkan tuanlah kepada Bugis itu dan jikaulau musuh kepada Bugis melainkan musuhlah kepada Melayu dan jikalau musuh kepada Melayu melainkan musuhlah kepada Bugis itu.

Perjanjian-perjanjian lain yang ikut disebutkan dalam manuskrip itu antara lain yang terjadi pada tahun 1945 yaitu saat pelantikan Dahing Kamboja sebagai Yang Dipertuan Muda ketiga Kerajaan Johor Riau. Perjanjian itu diperbaharui lagi pada tahun 1748. Perjanjian selanjutnya dilakukan pada tahun yang sama beberapa bulan kemudian. Perjanjian itu lebih menekankan tentang tanggung jawab bendahara dan peranannya dalam mewakili suara suku Melayu.
 
Isi perjanjian saat itu sesuai dengan situasi pelaksanaannya karena bermeterai dan dilakukan saat pelantikan bendahara baru yaitu Tun Hassan anak dari Bendahara Tun Abas yang bergelar Bendahara Seri Maharaja. Sejarah menunjukkan banyak perjanjian yang dilaksanakan diantara suku Bugis dan suku Melayu. Namun tidak berarti hubungan antara suku Melayu dan Bugis semakin erat, justru sebaliknya.

Perselisihan di antara suku Melayu dan suku Bugis ini sangat jelas terjadi pada masa pemerintahan Dahing Kamboja. Tokoh dari pihak suku Melayu yang paling menonjol dan banyak melakukan pertentangan terhadap suku Bugis adalah Tun Dalam. Tun Dalam adalah Yang Dipertuan Terengganu yang merupakan menantu Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah. Manuskrip Tuhfat al Nafis banyak menggambarkan peranan Tun Dalam (disebut Raja Kecik di dalam teks) dalam mencetuskan kekeruhan hubungan antara dua ini dan beliau juga mendapat sokongan dari bendahara, temenggung dan juga pembesar-pembesar Melayu lainnya.
 
Tun Dalam ini sebenarnya adalah putera dari Sultan Trengganu, Sultan Zainal Abidin dan ibunya Che Puan Besar Trengganu, Nang Rugayah. Beliau juga dikenal sebagai Ku Tana Mansur yang telah menonjolkan ciri-ciri kepahlawanannya sejak kecil. Pada usia 11 tahun, saat ayahnya meninggal dunia, beliau dilantik sebagai Sultan Trengganu yang bergelar Yang Dipertuan Kecik.
Tahun 1739, untuk pertama kali beliau ke Riau dan menikah dengan Raja Bulang, puteri Sultan Sulaiman tetapi kemudian kembali ke Trengganu dua tahun kemudian. Tahun 1746, beliau kembali ke Riau dan menetap di riau selama 14 tahun.Dlam tempo 14 tahun inilah beliau banyak ebrusaha supaya penguasaan suku Bugis ke atas politik Johor dapat dikurangi. Tun Dalam juga dikatakan banyak menerima aduan dari masyarakat suku Melayu yang rata-rata tidak suka pemerintahan dikuasai oleh suku Bugis.
 
Salah satu contoh perselisihan pendapat antara suku Melayu dan suku Bugis adalah ketika tercetusnya perang saudara di antara dua bersaudara Siak (putera Raja Kecil yang berlainan ibu) yaitu Raja Mahmud (Raja Buang) dan Raja Alam. Di dalam perselisihan itu, Raja Mahmud meminta bantuan dari Sultan sulaiman yang juga merupakan bapa saudaranya untuk merampas tahta Siak yang disandang oleh Raja Alam. 
 
Tun Dalam memang setuju untuk memberi bantuan tetapi tidak di pihak suku Bugis. Oleh karena itu, Tun Dalam berusaha mendapatkan bantuan Belanda dan dan pada tahun 1784, sultan Sulaiman, Tun Dalam, pembesar-pembesar Melayu bersama-sama bantuan Belanda telah berlayar ke Siak dan mereka berhasil. Sebagai hadiahnya, Belanda dibolehkan menjalankan aktivitas perdagangan mereka di Pulau Gontong. Sebenarnya, Tun Dalam melihat terlibatnya suku Melayu di dalam peperangan ini sebagai satu peluang untuk menjauhkan diri mereka dari penguasaan Bugis dengan membawa masuk dan melibatkan pihak Belanda ke dalam percaturan politik setempat.
 
Selain itu, manuskrip Tuhfat al Nafis misalnya, menggambarkan perselisihan di antara suku Melayu dengan suku Bugis ini bermula dengan saling fitnah sehingga muncul salah paham. Teks itu menggambarkan Tun Dalam dan pengikut-pengikutnya menyebarkan fitnah setiap minggu bahwa suku Bugis mengancam keselamatan suku Melayu dengan mengamuk dan membakar rumah mereka. Namun apabila siasat itu dilakukan, terdapat persoalan yaitu tidak benar sebaliknya hanyalah usaha untuk melahirkan perasaan anti Bugis di kalangan suku Melayu.
 
Ada pendapat yang mengatakan, bahwa kabar angin yang timbul itu sengaja diedarkan oleh Tun Dalam supaya pembesar-pembesar dan suku Bugis merasakan tidak selamat dan mereka tinggal di Riau yang senantiasa terancam dan tidak tentram. Usaha itu membuahkan hasil karena Yang Dipertuan Muda Kamboja terpaksa memohon untuk keluar dari Riau karena ketidaamanan kota. Yang Dipertuan Muda Dahing Kamboja kemudian menetap di Linggi sementara pembantunya Raja Haji ditinggalkan di Riau sebagai wakil masyarakat Bugis di sana.
 
Tindakan lain yang dilakukan oleh Tun Dalam adalah ketika melaksanakan titah sultan Sulaiman supaya menjemput Yang Dipertuan Muda Dahing Kamboja di Linggi untuk kembali ke Riau. Beliau yang ditugaskan bersama-sama dengan Raja Haji telah menemui Gubenur Belanda di Melaka, mengatasnamakan dirinya sebagai utusan Sultan Sulaiman. 
 
Utusan itu dikatakan memohon bantuan Belanda untuk menyerang Raja Haji yang sedang singgah di pinggir Melaka dan Yang Dipertuan Muda Dahing Kamboja di Linggi sekaligus menghalau Bugis dari Riau. Semasa peperangan meletus antara suku Bugis dengan Belanda itu, Tun Dalam telah membuat rancangan untuk memisahkan terus suku Melayu dan Bugis di Riau.
 
Beliau pulang ke Riau dan menunjuk keluarganya bersama suku-suku Melayu yang lain termasuk Sultan Sulaiman dan keluarga untuk berpindah ke Trengganu. Namun begitu, usaha beliau tidak berhasil karena berita peperangan antara Linggi dengan Belanda yang tercetus hasil rancangannya telah tersebar ke Riau. Lebih lagi kemudian didapati Bugis dan Belanda telah menandatangani perjanjian perdamaian pada Januari 1758 di Fort Filipina di Kula Linggi.
 
Semenjak kejadian itu, Tun Dalam kembali ke Trengganu dan tidak lagi campur tangan dalam politik Kerajaan Johor Riau. Dapat dikatakan kegagalannya dalam usaha menyingkirkan suku Bugis dari Kerajaan Johor dan mendapatkan sokongan sultan telah mematahkan semangat beliau untuk meneruskan perjuangan. Selepas peranan beliau ini, memang tidak nampak penonjolan tokoh lain yang boleh menggugat penguasaan Bugis di dalam Kerajaan Johor Riau sebagaimana usaha beliau.
 
Namun begitu, pertikaian terus terjadi dan suku Bugis terus memperlihatkan penguasaan mereka di dalam politik Kerajaan. Misalnya, setelah kemangkatan Sultan Sulaiman yang kemudian digantikan dengan puteranya Raja di Baruh yang juga tidak sempat menaiki tahta karena mangkat di Selangor, Yang Dipertuan Muda Dahing Kamboja bersama-sama suku Bugis telah melantik Raja Ahmad, putera Raja di Baruh yang masih kecil sebagai sultan.
 
Pelantikan ini bermakna Yang Dipertuan Muda meminggirkan peranan bendahara dan suku-suku Melayu yang lain yang ingin melantik saudara-saudara Raja di Baruh yaitu Tengku Abdul Kadir, Tengku Buang ataupun Tengku Osman. Pertikaian yang samajuga terjadi saat Sultan Ahmad wafat dan suku-suku Bugis berkeras hati untuk melantik Raja Mahmud, adik Sultan Ahmad yang terlalu kecil sedangkan pembesar-pembesar Melayu masih dengan keinginan yang sama sebelumnya yaitu melantik saudara-saudara Raja di Baruh.
 
Ada pihak yang menduga wafatnya Raja di Baruh sebelum sempat memimpin kerajaan adalah karena diracun oleh Dahing Kamboja. Demikian juga dengan Sultan Ahmad dipercayai ikut diracun untuk memberi jalan kepada adidanya Raja Mahmud yang masih kecil mengingat beliau sedang menginjak remaja dan bersedia bila mengambil alih pemerintahan yang sedang dijalankan oleh Yang Dipertuan Muda Dahing Kamboja.
 
Menjalankan pemerintahan saat usia masih kecil memberikan kelebihan kepada Yang Dipertuan Muda Johor Riau karena beliau menjadi pemangku dan bisa menguasai kekuasaan kerajaan. Hikayat Riau menyebutkan sejak dilantik menjadi Sultan Kerajaan Johor Riau, Sultan Mahmud hanya tinggal di dalam istana saja. Oleh karena itu, bermula dari pelantikan Sultan Mahmud hingga kematian Dahing Kamboja tahun 1777, Dahing Kamboja dianggap sebagai pemangku sultan yang menjadi pemerintah de facto ke atas Kerajaan Johor Riau.
 
Sementara itu, Hikayat Siak mengisahkan perselisihan Melayu dengan Bugis seperti tersebut di atas, dimulai saat Bugis bersaudara menagih janji untuk menjadi Raja Muda. Dikisahkan sebagai berikut.

Dan tiada berapa lamanya di ‘Johor, maka Dahing Parani pun datang menuntut janji, hendak jadi Raja Muda, “Kerana aku tiada mungkirkan janji, kerana adik yang meninggal akan aku.” Dan segala hulibalang baginda tidak mahu member. Orang yang tiada merasa pahit maungnya, hendak dapat senang. Dan baginda pun mengikut mufakat dengan segala orang besar-besar. Maka baginda pun tiadalah menrima kehendak Dahing Parani itu. Maka Dahing Parani pun marah. Dan didengar oleh Raja Sulaiman, Dahing Parani datang. Maka dipanggilnya oleh Raja Sulaiman, Dahing Parani datang. Maka dipanggilnya oleh Raja Sulaiman, makan. Dan Tengku Tengah berpikir di dalam hatinya, “Baiklah aku menyerahkan diri. Biar aku menjadi budaknya oleh orang Bugis, asal lepas Maluku ini.”

Hatta, serta Dahing Parani, maka Tengku Tengah pun bicara dengan saudaranya, Raja Sulaiman. “Baiklah abang bicara dengan Raja Bugis,/ jikalau ia mahu menolong kita. Barang apa kehendak, kita turutlah.” Maka Dahing Parani pun bertemulah dengan Raja Sulaimann. Maka ia pun berbicara dengan Dahing Pareani. Setelah itu, sudah putus bicaranya, maka bidai istana Raja Sulaiman digulung oranglah. Maka Raja Tengahpun berdiri di muka pintu, mengelepak subangnya. 
 
Lalu ia berkata dengan Dahing Parani, “Hai Raja Bugis, jikalau engkau berani, hendaklah tolong lepaskan malu aku. Dan jikalau sudah lepas Maluku ini, sukalah aku menjadi hamba engkau, aku sekalian turu.” Maka Dahing Parani pun bercakaplah, ialah melepaskan malunya. “Adikku, itu jangan susah hati.” Maka Raja Sulaiman pun berjanji, “Jikalau dapat seperti maksud kita, adikku menjadi Raja Besar, aku menjadi Raja Muda.” Setelah sudah, maka Dahing Parani pun nikah dengan Raja Tengah.

Dan Dahing Parani bicara hendak membuat Yang Dipertuan. Dan Raja Tengah pun hendak mencuri Tengku Kamariah. Dan kepada satu malam, lepas waktu sembahyang masgrip, Raja Tengah pun masuk ke dalam kota. Dan waktu Duli Yang Dipertuan lagi tengah sembahyang isyak. Dan istri tiada boleh jauh, duduk dekat baginda juga. Dan Raja Tengah pun masuk dari penangga.
 
Raja Tengah sampai di pintu tengah. Maka kelihatan Tengku Kamariah duduk dekat baginda, lagi sembahyang. Maka lalu dilambai oleh Raja Tengah. Maka Tengku Kamariahpun datang mendapatkan saudaranya, lalu dibawa oleh Raja Tengah turun. Lalu keluar kota, pulang ke istananya. Maka baginda pun sudah sembahyang. Maka dipandang baginda istri baginda tiada itu. Maka baginda pun bertanya, kemana perginya, dicari, tiada di dalam istana itu. Maka baginda turun, bertanya kepada penunggu pintu. Maka sembah penunggu pintu, mengatakan, “Paduka kanda Raja Tengah yang membawa paduka adinda itu, tuanku.”

Setelah baginda mendengar perkataan itu, maka baginda pun terlalu murkanya, lalu menyuruh memukul semboyan. Maka gemparlah segala orang. Berkumpullah segala hulubalang, menghadap baginda. Maka baginda pun menyuruh melanggar Datuk Bendahara, “Kerana dia member malu kita.” Dan segala hulubalang pun pergilah melanggar Bendahara. Dan kepada malam itu juga, alah Bendahara, lalu Bendahara lari. Dan istri baginda pun dapat. Dan Bendahara pun lari ke Pahang. Dan Dahing Parani ke Langat, mendapatkan segala orang Bugis, kerana hendak melanggar Johor.

Dan baginda menyuruh titah kepada Laksamana dan Seri Bija Wangsa, menyuruh mengikut pun pergi (nya) mengikut ke Pahang. Dan Laksamana/pun menghadap Datuk Bendahara, menyampaikan titah baginda, “PAduka anakanda menyuruh menyilakan Datuk kembali ke Johor.” Maka Datuk Bendahara pun bersabda, “Adalah beta ini, sudah banyak salah kepada Duli Baginda, kerana tiada patut sekali-kali beta mencuri istri Duli Yang Dipertuan. 
 
Dan sekali-kali beta tiada tiada tahu dengan perbuatan isteri Duli Yang Dipertuan. Dan sekali-kali beta tiada tahu dengan perbuatan yang demikian itu; oleh sebab anak-anak yang sudah (ia) membuat, maka beta dapat malu. Dan itulah sebabnya beta tiada cakap lagi memandang muka baginda. Dan baiklah Laksamana bunuh sekali beta.” Dan Laksamana pun fikir dalam hatinya, “Jika Bendahara ini lepas, besar kelak bicaranya. Jika demikian, baiklah aku segerakan, karena dosanya derhaka. Jika dengan (tiada) bicara Bendahara, tiada akan sampai duli marhum mangkat.” Maka kata Seri Bija Wangsa, “Benarlah bicara tuan hamba itu. Hutang nyawa, bayar nyawa juga.”

Setelah putuslah mufakat pegawai itu, maka Bendahara pun dikerjakan oranglah. Maka Bendahara pun sangat melawan. Delapan orang yang mati, dibunuh Bendahara. Dan Raja Tengah pun melawan, tiada dipedulikan(nya) orang, kerana ia perempuan. Dan Bendahara pun ditanamkan oranglah di Kuala Pahang, sampai sekarang (disebut) Marhum Mangkat (Di) Kuala Pahang.

Dan Laksamana dan Seri Bija Wangsa pun kembali ke Johor, membawa Raja Tengah. Dan Raja Sulaiman/ lari ke hulu Pahang, mendapatkan saudaranya, Bendahara Pekok, dan Laksamana sampailah ke Johor.

Maka baginda pun mendengar Bendahara mati itu, maka baginda pun menyesal menyuruh mengikut, sebab melihat istrinya menangis itu, sangat percintaan akan paduka ayahanda baginda. Maka baginda pun fikir, “Baiklah aku pindah dari Negeri Johor itu, kerana negeri celaka, hendaka membunuh rajanya juga.”

F. Sejarah Kerajaan Siak Sri Inderapura

Istana ini berdiri pada tahun 1889 masa kejayaan kerjaan siak adalah saat kekuasaan Raja Sultan Syarif Hasyim ayahanda dari sultan Syarif Kasim sebagai raja terakir yang  menjadi pahlawan nasional. Istana kerajaan Siak adalah sebuah kerajaan Melayu islam yang terbesar di Riau, yang mencapai masa jayanya pada abad ke 16 sampai abad ke 20.
 
Konon nama Siak berasal dari nama tumbuh-tumbuhan yaitu siak-siak yang banyak terdapat di situ. Kerajaan Siak Sri Indrapura didirikan Setelah Raja Kecik dewasa, pada tahun 1723 M oleh Raja Kecik yang bergelar Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah putera Raja Johor (Sultan Mahmud Syah) dengan istrinya Encik Pong, dengan pusat kerajaan berada di Buantan.
 
Setelah Raja Kecik dewasa, pada tahun 1717 Raja Kecik berhasil merebut tahta Johor. Tetapi tahun 1722 Kerajaan Johor tersebut direbut kembali oleh Tengku Sulaiman ipar Raja Kecik yang merupakan putera Sultan Abdul Jalil Riayat Syah. Dalam silsilah Sultan-sultan Kerajaan Siak Sri Indrapura dimulai pada tahun 1725 dengan 12 sultan yang pernah bertahta. Di tahun 1724-1726 Sultan Abdul Jalil melakukan perluasan wilayah dimulai dengan memasukan Rokan ke dalam wilayah Kesultanan Siak, membangun pertahanan armada laut di Bintan bahkan di tahun 1740-1745 menaklukan beberapa kawasan di Kedah.
 
Pada tahun 1761, putra Sultan Abdul Jalil yang menjadi Sultan Siak berikutnya membuat perjanjian ekslusif dengan pihak Belanda, dalam urusan dagang dan hak atas kedaulatan wilayahnya serta bantuan dalam bidang persenjataan. Pada abad ke-18 Kesultanan Siak telah menjadi kekuatan yang dominan di pesisir timur Sumatera. Tahun 1780 Kesultanan Siak menaklukkan daerah Langkat, dan menjadikan wilayah tersebut dalam pengawasannya,  termasuk wilayah Deli dan Serdang.
 
Jangkauan terjauh pengaruh Kesultanan Siak sampai ke Sambas di Kalimantan Barat. Kesultanan Siak mengambil keuntungan atas pengawasan perdagangan melalui Selat Melaka  dan kemampuan mengendalikan para perompak di kawasan tersebut.
 
Sejak Sultan Syarif Hasyim dinobatkan menjadi raja pada tahun 1889, beliau mulai membangun istana kerajaan dan istana peraduan yang selesai pada tahun 1893. Istana dibangun untuk kepentingan jalannya pemerintahan Kerajaan Siak Sri Indrapura. Kerajaan Siak merupakan pecahan dari Kemaharajaan Melayu. Dalam sejarahnya, terjadi perpecahan di Kemaharajaan Melayu antara Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah (Raja Kecil) dengan Sultan Suleiman.
 
Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah mengalami kekalahan dalam konflik tersebut, karena Sultan Suleiman dibantu oleh Bugis. Akibat dari kekalahan itu, Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah kemudian menyingkir ke Johor, kemudian Bintan dan terus ke Bengkalis, hingga akhirnya sampai di pedalaman Sungai Siak, tepatnya di daerah Buantan. 
 
Letak Buantan lebih kurang 10 km di hilir kota Siak Sri Indrapura sekarang ini. Karena merasa aman dan tentram di Buantan, ia kemudian memutuskan untuk menetap, dan oleh rakyat setempat, Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah kemudian diangkat sebagai Sultan Siak dengan gelar yang sama ketika ia masih menjadi raja di Kemaharajaan Melayu. 
 
Selanjutnya, Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah melakukan konsolidasi ekonomi dan militer untuk kembali merebut Kemaharajaan Melayu. Namun, setelah berkali-kali melakukan serangan terhadap pengikut Raja Sulaiman, ia tetap mengalami kegagalan. Ia mangkat pada tahun 1744, dan digantikan oleh putranya, Sultan Mohamad Abdul Jalil Jalaludin Syah. Anaknya ini kemudian memindahkan ibukota keMempura.
 
Pada masa Sultan ke-11 yaitu Sultan Assayaidis Syarief Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin yang memerintah pada tahun 1889 dibangunlah istana yang megah terletak di kota Siak dan istana ini diberi nama Istana Asseraiyah Hasyimiah yang dibangun pada tahun 1889. Dan oleh bangsa Eropa menyebutnya sebagai The Sun Palace From East (Istana Matahari Timur).
 
Pada masa pemerintahan Sultan Syarif Hasyim ini Siak mengalami kemajuan terutama dibidang ekonomi. Dan masa itu pula beliau berkesempatan melawat ke Eropa yaitu Jerman dan Belanda.  Setelah wafat, beliau digantikan oleh putranya yang masih kecil dan sedang bersekolah di Batavia yaitu Tengku Sulung Syarif Kasim dan baru pada tahun 1915 beliau ditabalkan sebagai Sultan Siak ke-12 dengan gelar Assayaidis Syarif Kasim Abdul Jalil Syaifuddin dan terakhir terkenal dengan nama Sultan Syarif Kasim Tsani (Sultan Syarif Kasim II).
 
Sejak Sultan Siak pertama, Siak sudah membuka hubungan dagang dengan beberapa negeri luar, seperti Turki, Arab dan Mesir. Disamping itu, Siak juga menjaga hubungan baik dengan negeri tetangga, seperti Minangkabau. Sepanjang berdirinya, Kerajaan Siak tak pernah henti berjuang melawan penjajah Belanda.
 
Di antara peperangan yang paling terkenal adalah Perang Guntung, di mana Kerajaan Siak berhasil menghancurkan kekuatan perang Belanda. Walaupun pada akhirnya Belanda berhasil menguasai Siak, tapi itu bukanlah hasil kekuatan senjata, tapi hasil dari pecah belah dan tipu muslihat. Selama berdirinya, Kerajaan Siak telah berkali-kali berpindah ibukota, yang pertama di Buantan, Mempura, Senapelan, kemudian pindah lagi ke Mempura, dan terakhir di Kota Tinggi, yang lebih dikenal dengan nama Siak Sri Indrapura. 
 
Sultan As-Sayyidi Syarif Kasim Abdul Jalil Syaifuddin II atau Sultan Syarif Kasim II (lahir di Siak Sri Indrapura, Riau, 1 Desember 1893) adalah sultan ke-12 Kesultanan Siak. Dia dinobatkan sebagai sultan pada umur 21 tahun menggantikan ayahnya Sultan Syarif Hasyim. Riau di bawah Kesultanan Siak pada masa kepemimpinan Sultan Syarif Kasim Sani (Sani=dua). 
 
Ketika Jepang kalah, ikatan Hindia Belanda lepas, Sultan Syarif Kashim menghadapi 3 pilihan: berdiri sendiri sperti dulu?, bergabung dg Belanda? atau bergabung dg Republik? Sultan sebagai sosok yg wara' dan keramat melakukan istikharah. Saya kuat menduga Allah memberitahu SSK agar bergabung dg Republik karena kekayaan Riau yg sangat berlimpah dan berlebihan kalau sekedar dikuasai sendiri.
 
Maka Sultan menentukan pilihan bergabung dg Rep. Mendukung NKRI. BERGABUNG. Sultan menurunkan modal 13 juta Golden (3x nilai kompleks gedung Sate, Bandung), bersama2 dg para komisaris lainnya di PT. NKRI (Deli, Asahan Siak, Yogya, Solo, Kutai kartanegara, Pontianak, Ternate, Tidore, Bali, Sumbawa-daerah-daerah yg termasuk Zelfbestuuren-berpemerintahan sediri pd jaman pendudukan Belanda di nusantara). 
 
Bersamaan dengan diproklamirkannya Kemerdekaan Republik Indonesia, beliau pun mengibarkan bendera merah putih di Istana Siak dan tak lama kemudian beliau berangkat ke Jawa menemui Bung Karno dan menyatakan bergabung dengan Republik Indonesia sambil menyerahkan Mahkota Kerajaan serta uang sebesar Sepuluh Ribu Gulden.  Dan sejak itu beliau meninggalkan Siak dan bermukim di Jakarta. Baru pada tahun 1960 kembali ke Siak dan mangkat di Rumbai pada tahun 1968. Beliau tidak meninggalkan keturunan baik dari Permaisuri Pertama Tengku Agung maupun dari Permaisuri Kedua Tengku Maharatu.
 
Pada tahun 1997 Sultan Syarif Kasim II mendapat gelar Kehormatan Kepahlawanan sebagai seorang Pahlawan Nasional Republik Indonesia. Makam Sultan Syarif Kasim II terletak ditengah Kota Siak Sri Indrapura tepatnya disamping Mesjid Sultan yaitu Mesjid Syahabuddin. Diawal Pemerintahan Republik Indonesia, Kabupaten Siak ini merupakan Wilayah Kewedanan Siak di bawah Kabupaten Bengkalis yang kemudian berubah status menjadi Kecamatan Siak. Barulah pada tahun 1999 berubah menjadi Kabupaten Siak dengan ibukotanya Siak Sri Indrapura berdasarkan UU No. 53 Tahun 1999.

F. Sultan Abdul Jalil Rahmad Syah (1723-1746 M)

Sultan Abdul Jalil Syah mangkat pada tahun 1746 dan dimakamkan di Buantan kemudian digelari dengan Marhum Buantan. Kemudian kedudukannya digantikan oleh putranya, yang bernama Sultan Mahmud.

DAFTAR PUSTAKA

http://wartasejarah.blogspot.co.id/2013/10/sejarah-raja-kecik-pendiri-kerajaan-siak.html

https://web.facebook.com/thepatriots2020/posts/450299345164096:0?_rdc=1&_rdr

https://id.wikipedia.org/wiki/Abdul_Jalil_Syah_dari_Siak

http://tn-zamrud.blogspot.co.id/p/sultan-siak.html

http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbkepri/2015/02/10/jejak-sejarah-sultan-sulaiman-badrul-alamsyah-i-1722-1760/

http://makalahmahasiswariau.blogspot.co.id/2015/05/kerajaan-siak-sri-indrapura.html

https://web.facebook.com/permalink.php?id=557241834354220&story_fbid=559497114128692&_rdc=1&_rdr

https://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Siak_Sri_Inderapura

Posting Komentar untuk "Makalah Raja Kecik Siak"