Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cerpen Pengalaman Pribadi Menggunakan Majas~BloggerZar

Cerpen dengan Banyak Majas~BloggerZar



Berikut Cerpen Singkat Mengandung majas karangan saya sendiri semoga bermanfaat.



Sungguh Tak
Masuk Akal

            Sungguh aku merasakan kehilangan semangat untuk menuntut ilmu di bangku sekolah yang sudah tiga massa aku duduki ini. Pelajaran yang begitu ringan bak sehelai kapas berhasil mengacak-mengacak hasil belajarku selama tiga massa ini. Sungguh Tak masuk akal, tetapi aku tau sepandai-pandainya tupai melompat pasti terjatuh juga. Tak ada gading yang tak retak. Suasana sedih ini membawaku kelamunan masa lalu ketika aku berada di puncak roda yang berputar. Aku menikmati masa kejayaanku sebagai bintang kelas yang tak terkalahkan dan menjadi anak emas dipandangan semua guru. Sehingga membuatku tak sadar bahwa roda tersebut akan berputar ke bawah untuk menghempaskan ku kedasar tanah. Tetapi walau pahit ku rasakan , akan tetap kujalani dengan semangat yang keras bagaikan batu ini.                                                                                  
           Sebulan yang lalu aku telah melaksanakan ujian tengah semester atau lazim disebut mid semester. Sebagai bintang kelas tentunya ujian adalah hal yang biasa bak makan nasi, sungguh aku merasakan tidak ada beban sama sekali. Terlihat dari hasil belajarku sebelumnya yang selalu bagus dan mengguncangkan dunia. Belasan, puluhan, bahkan ratusan soal adalah hal yang mudah sekali bagaikan membalikkan telapak tangan. Sedikit banyaknya semua hasil ujianku sudah terlintas dikepala. Sudah pasti kepala Sembilan akan tercantum pada lembaran- lembaran  kertas itu.                 
           Tibalah saatnya bagiku untuk menerima hasil belajar atau sering disebut rapor. Saat nama indah itu dipanggil, kuambil seribu langkah untuk melihat ukiran angka yang sudah biasa kulihat. Setelah kulihat hasilnya sejenak perasaanku yang tenang seperti embun pagi sentak berubah gelisah seperti cacing kepanasan bercampur dengan wajahku yang terlihat jelas merah padam bagaikan api. Tanganku sungguh tak tahan lebih lama lagi karena seperti memegang duri kaktus rasanya. Tak disangka tak diduga pelajaran yang begitu mudah dan tak pernah memberiku beban sebagai bintang kelas, harus menodai lembaran-lembaran kertas itu. Luar biasa patah semangat yang kurasakan saat itu laksana orang belum makan tiga hari. Tidak hanya fisik ku yang gelisah namun pikiranku ikut panik tak menentu, karena kesegala penjuru kemungkinan yang aku pikirkan. Apa kata orang tua ? apa kata teman- temanku ? apa aku masih jadi bintang kelas ? apa aku masih dipandang guru ? Semuanya menjadi satu mengobrak-abrik pikiranku. Terlintas diingatanku ketika mengisi lembar jawaban tak ada satupun soal yang sulit dijawab, begitu lancar pena menari- nari ditanganku. Dengan senang hati juga kertas itu aku isi dengan jawaban yang sudah pasti benar. Emosiku pun mulai naik kepuncaknya langit ketujuh sehingga mengingatkan kepada guru yang bersangkutan . Hal ini membuatku ingin menggigit lidah sendiri karena tak kuasa lagi menahan kegeraman atas hasil ini. Apa mungkin ada keslahan pemeriksaan ? aku rasa tidak. Semua lembar jawaban diperiksa oleh orang- orang yang berkmpeten dalam bidangnya dapat dilihat dari ukiran angka pada mata pelajaran yang lain. Apa mungkin aku kurang belajar ? aku rasa tidak belasan, puluhan, bahkan ratusan soal sudah aku kerjakan dengan hasil yang sangat memuaskan. Ditambah lagi begitu banyak bimbel yang aku ikuti untuk mempertahankan gelar selama tiga massa itu. Sungguh Tak masuk akal .
            Tapi apa boleh buat nasi telah menjadi bubur, tupai sudah jatuh, dan gading sudah retak. Penyesalan tidak ada gunanya, hal ini mengharuskan orang tuaku bersilahturahmi ke sekolah untukmengetahui akar permasalahannya. Sungguh aku tak sampai hati kepada orang tuaku, biarlah dia berfokus mencari nafkah namun aku malah mencari masalah. Jarak yang sangat amat jauh juga menambahkan penyesalanku atas semua ini. Andaikan saja hasil belajarku tetap bagus seperti biasa tak harus aku memberatkan orang tuaku.                                                              
             Peristiwa ini membuatku tersadar akan roda yang selalu berputar ketika kita diatas roda akan berputar kebawah untuk menghempaskan ke tanah. Pantas saja banyak orang mengatakan mempertahankan lebih sulit daripada meraih. Karena bila hanya untuk meraih kita tinggal menunggu roda itu berputar ke atas, namun bila mempertahankan kita harus melawan arah roda untuk tetap berada di atas dan tidak terhempas ke tanah. Bila kita tak menyadari hal ini maka kita akan terlena dengan kenikmatan dan kemegahan di puncak sehingga dengan senang hati roda itu menghempaskan kita. Aku menanamkan dalam hati dan pikiranku walaupun aku adalah seoang bintang kelas tetap saja tidak satu mata pelajaran pun yang boleh dipandang sebelah mata Supaya tak masuk terjatuh pada lobang yang sama. Setitik tuba merusakkan susu sebelangga. Itulah kata-kata yang sangat amat cocok untuk peristiwa yang kualami ini.                                                                                                                              Pada ujian-ujian berikutnya tak satu mata pelajaranpun yang kuanggap mudah semuanya akan aku jawab dengan tanggung jawab yang penuh supaya aku dapat melawan arah roda itu dan tetap berada di puncak roda yang bintang kelas.

                                                                                                                                                                                   

           

Posting Komentar untuk "Cerpen Pengalaman Pribadi Menggunakan Majas~BloggerZar"