Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Teater Mak Yong Mulai Dari Sejarah Sampai Busana dan Properti

Teater Tradisional Mak Yong
Sejarah Teater Makyong

Makyong sangat terkenal dan dilestarikan sekali di daerah Melayu. Ada berbagai pendapat mengenai asal usul Makyong di Kepulauan Riau, antara lain pendapat hasil rumusan Diskusi Teater Tradisional yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta bersama Direktorat Pembinaan Kesenian pada tanggal 13 Desember 1975. Dari pendapat itu tidak dapat diketahui dengan pasti kapan Makyong sampai ke Riau, karena Makyong berkembang menurut situasi dan kondisi setempat, dan akhirnya menjadi sebuah pertunjukan yang mendarah daging bagi penduduk setempat. 

Sebuah sumber mengemukakan bahwa Makyong sudah sampai ke Malaka dan Siak pada tahun 1920. Padahal berdasarkan keterangan yang dikemukakan orang-orang tua di Mantang (tempat teater ini berkembang pesat di Kepulauan Riau) disimpulkan bahwa Makyong telah ada di Riau hampir seabad yang lalu. Kalau hal ini benar, maka Makyong lebih dulu sampai ke Riau, baru ke Sumatera Utara, yang tercatat terjadi pada tahun 1896 pada saat Kerajaan Serdang diperintah Sultan Sulaiman.


Tidak seorang pun tahu dengan pasti arti kata Makyong. Namun, masyarakat luas tahu bahwa Makyong merupakan nama sebuah pertunjukan atau teater yang pernah populer di Malaysia. Bagi orang Riau masa kini, Makyong hanya sebuah kenangan atau cerita tentang teater yang sangat terkenal. Mubin Sheppard yang dianggap paling paham tentang seluk-beluk Makyong di Malaysia juga tidak tahu secara pasti arti kata Makyong. Dia mengemukakan bahwa Makyong berasal dari kata Ma Hiang atau the Mother Spirit. Yang jelas Makyong dikenal sebagai nama sebuah bentuk teater dan nama salah seorang tokoh utama dalam lakon Makyong.

Teater Makyong pernah berjaya di Riau. Teater ini tidak saja hidup di tengah masyarakat, tetapi juga merupakan kekayaan budaya istana. Di Kepulauan Riau masa lalu, Makyong ditemukan di dua tempat, yaitu di Tanah Merah dan di Mantang Arang. Menurut seorang pembina teater, dulu ada beberapa kelompok Makyong, yaitu delapan kelompok di Mantang Arang yang masing-masing dipimpin oleh Hasan, Ni Poso, Tongkong, Botak, Ungu Mayang, Awang, Begoh, Khalid; di Tanah Merah dipimpin oleh Embak Tanah Merah; di Rempang dan Sembulang dipimpin oleh Niah; dua kelompok di Kasu masing-masing dipimpin oleh Minah Kekap dan Mat Darus; dan di Dompak dipimpin oleh Emak Empak.

Kelompok yang masih ada hingga sekarang hanya Makyong Mantang Arang yang dipimpin oleh Khalid. Sebagian besar anggota kelompok ini sudah berusia lebih dari setengah abad. Bahkan anggota tertua berusia lebih dari delapan puluh tahun (pada tahun 1989). Penduduk Mantang Arang sebagian besar bekerja sebagai petani dan nelayan. Mereka tidak tinggal di Pulau Mantang yang hanya terdiri dari sebelas rumah itu. Pada hari-hari besar tertentu seperti hari raya Idul Fitri, Idul Adha, dan Maulud Nabi mereka baru beramai ramai pulang ke kampungnya.

Pertunjukan Teater Mak Yong

Seperti juga teater rakyat (tradisional) lainnya, pementasan Makyong tidak menuntut set properti, dekorasi, atau layar untuk pergantian babak. Bila Makyong dipentaskan di lapangan terbuka, tempat pentas harus diberi atap yang menggunakan bubungan dengan enam buah tiang penyangga. Pada kayu yang melintang dihiasi daun kelapa muda. Bila dimainkan di istana, Makyong dipentaskan di panggung beton berbentuk segi enam.

Setelah Ketua Panjak yang disebut Bomo mendapatkan tempat yang tepat untuk pertunjukan Makyong, ia harus melakukan serangkaian upacara sebelum pementasan dilakukan. Mula-mula dilaksanakan upacara mengasap alat-alat yang terdiri dari sebuah gendang penganak, sebuah gendang pengibu, dua buah tawak-tawak atau gong, dua buah mong atau kromong, sebuah geduk-geduk, sebuah canang, sebuah serunai, dan sebuah rebab. Upacara mengasap dilanjutkan pada alat-alat bermain (properti) lainnya, termasuk canggai (kuku-kuku palsu yang panjang).

Upacara selanjutnya disebut buang bahasa atau buka tanah dengan menanam sebutir telur ayam, segenggam beras basuh, segenggam beras kuning, bertih, sirih sekapur, dan sebatang rokok daun nipah. Setelah sang Bomo memerintahkan pembantunya menanam benda-benda tersebut, ia mulai menaburkan bertih dan beras basuh ke sekeliling tempat bermain, sambil membaca serapah atau mantra yang diiringi bunyi musik berirama magis.

Selama upacara berlangsung, para pelakon/pemain duduk berderet di depan pemain musik. Begitu Bomo selesai mengadakan upacara buka tanah atau buang bahasa, para pemain segera mengambil satu atau dua butir bertih dan beras basuh yang ditaburkan sang Bomo untuk dikunyah, dengan maksud agar lakon mereka lancar.

Pertunjukan Makyong pun dimulai. Dengan diiringi musik, seorang pemain wanita berpakaian lelaki yang memerankan Pakyong atau Cikwang berdiri. Dia bertelekan pada kedua lutut dan perlahan-lahan berdiri sambil menyanyikan lagu “Betabik”. Nyanyian Pakyong disambut oleh para pemain wanita yang memerankan inang dan dayang. Mereka berdiri, kemudian ikut menari dan menyanyi bersama Pakyong. Setelah selesai membawakan lagu Betabik, para dayang dan inang duduk kembali. Pakyong yang masih berdiri di tengah area pertunjukan segera memanggil Si Awang atau Peran. Di sudut lokasi itu Awang atau Peran menyahut panggilan Pakyong sambil memantrai topeng yang sedang dipegangnya. Topeng dipakai dan ia pun mendekati Pakyong dengan gerakan teatral khas Makyong, yaitu melenggang dengan tangan bergetar. Dalam teater Makyong, Awang atau Peran merupakan pemain yang amat penting. Dia menjadi pelawak, pengiring raja, pengiring anak raja (pangeran), dan kadang-kadang juga disebut Pakyong Muda.

Pergantian babak atau adegan dalam teater Makyong ditandai dengan nyanyian dan dialog yang diucapkan para pemain atau dengan duduk dan berdirinya para pemain di pinggir ruang pertunjukan, sedangkan pertukaran peran dilakukan dengan menukar topeng yang dikenakan pemain. Seorang pemain boleh membawakan lebih dari satu peran, bahkan tiga atau empat peran dengan cara menukar topengnya.

Cerita Teater Mak Yong

Cerita yang disajikan dalam pementasan Makyong sebagian besar sudah dikenal secara luas, karena cerita dalam Makyong berasal dari folktale atau warisan dari tukang cerita istana. Tidak ada peninggalan tertulis tentang lakon Makyong. Semua lakon ditularkan melalui tradisi lisan. Di antara cerita-cerita Makyong yang sangat terkenal ialah Tuan Putri Ratna Emas, Nenek Gajah dan Daru, Cerita Gondang, Wak Peran Hutan, Gunung Intan, Dewa Muda, Dewa Indra Dewa, Megat Muda, Megat Sakti, Megat Kiwi, Bungsu Sakti, Putri Timun Muda, Raja Muda Laleng, Raja Tingkai Hati, Raja Dua Serupa, Raja Muda Lembek, dan Gading Betimbang. Kadang-kadang juga dipentaskan cerita yang berasal dari Mahabarata, Ramayana, cerita Panji, dan Pagarruyung. Cerita dan bahan yang disebut terakhir sudah beda jauh dari aslinya, sehingga hanya dapat dikenal dari bingkai atau polanya saja. Sebagai contoh adalah cerita Koripan yang berasal dari cerita Panji. (Baca Juga: Naskah Drama The Legend Of Prambanan Temple)

Jika dalam pewayangan (wayang purwa) dikenal cerita-cerita yang tabu dipentaskan tanpa sesaji atau semah dan upacara khusus, Makyong pun memiliki ceritera seperti itu, yaitu lakon Nenek Gajah dan Daru. Cerita ini mengisahkan tentang seekor hewan mitologis Melayu bernama Gajah Mina di Pusat Tasik Pauh Janggi yang bertempur dengan bermacam-macam ular dan naga. Anggota kelompok Makyong dan masyarakat di sekitar Mantang Arang percaya bahwa jika cerita ini dipentaskan tanpa semah dan upacara tertentu, hal itu akan mendatangkan badai dahsyat.

Tokoh Pada Teater Mak Yong

Tokoh pertunjukan Makyong terdiri dari: Pakyong atau Raja, Pakyong Muda atau Pangeran, Makyong atau Permaisuri yang disebut juga Mak Senik, Putri Makyong atau Putri Raja, Awang Pengasuh atau pelayan raja yang berjumlah lebih dari satu orang, Orang tua, Dewa, Jin dan Raksasa, dan para Pembatak. Peran-peran wanita ialah Makyong, Putri, Inang, dan Dayang. Pakyong merupakan tokoh pria, namun dibawakan oleh wanita. Peran-peran seperti Awang, Mak Perambun, Wak Petanda Raja, Wak Nujum, Dewa, Jin, Pembatak, dan Raksasa dibawakan oleh pria. Musik, Tari, Dan Nyanyi Makyong

Dalam teater Makyong dikenal lagu Tabuh, Betabik, Awang Nak Bejalan, Selendang Awang, Colak Adik Hitam, Sedayung Makyong, Gendang Tinggi, Jalan Masuk, Mengulit Kasih, Cik Poi, Lenggang Tanduk, Cik Milik, Lagu Rancak, Bunga Kuning, Timang Welo, Lagu Sabuk, Gemalai Lagu Kelantan, dan Ikan Kekek yang diringi dengan alat-alat musik. Lagu-lagu ini dibawakan dengan tari dan dengan atau tanpa lirik. Dalam pertunjukan Makyong, para pelakon/pemain berjalan dengan gerak tari sederhana. Gerakan yang sederhana itu menggambarkan watak para pelakon. Misalnya seorang wanita pemeran Pakyong harus memperlihatkan gerakan yang cekatan untuk menggambarkan bahwa dirinya seorang pria.


Contoh perbedaan gerakan pria dan wanita ialah dalam cara duduk. Duduk bersila, berlipat lutut peria, dan bersimpuh (bertimpuh) merupakan cara duduk untuk wanita. Duduk dengan menegakkan lutut merupakan cara duduk untuk pria dan wanita. Gerakan-gerakan lain dalam pertunjukan Makyong ialah ketika berdiri: tegak merendah, bersilang kaki, berputar di tempat, beringsut setengah lingkaran ke kiri dan ke kanan, dan bergeser sejajar dengan lingkaran. Ketika melangkah dikenal gerakan langkah berjalan, melenggang, langkah terhenti, langkah tari, langkah segi tiga atau mengubah arah, langkah segi empat, langkah mengejar, dan bergegas. Gerakan yang dipakai untuk tangan yaitu lenggang berjalan untuk pria, lenggang berjalan untuk Mak Inang, sembah pembuka, gerak tari pembuka ketika duduk dan berdiri, gerak tari sabuk kiri dan kanan, gerak tari asyik, gerak tari ular sawah, gerak tari mabuk, gerak tangan sebelah ketika berundur, gerak tari tanduk, gerak kecipung, gerak senandung jamak, dan gerak aba-aba.

Busana dan Properti Teater Mak Yong

Tata busana dalam teater Makyong adalah sebagai berikut. Pertama, tokoh Pakyong atau Pakyong Tua memakai baju berlengan pendek, berseluar (bercelana), berdagang luar (kain samping), celemek (alas dada atau elau berhias manik-manik), tanjak berhias manikmanik, selampai, bengkung, pending, sabuk, keris, dan tongkat berbelah tujuh, serta canggai di jari-jarinya. Warna pakaiannya dipilih yang hitam atau warna gelap lainnya.

Kedua, tokoh Pakyong Muda mengenakan pakaian seperti Pakyong Tua dengan warna muda atau cerah. Kain samping yang disebut dagang luar dipakai sedikit di atas lutut atau lebih singkat dari yang dipakai Pakyong Tua.

Ketiga, tokoh Makyong memakai kebaya panjang dari bahan yang mengkilap, selendang bersulam keemasan, pending menindih selendang, dan memakai mahkota di kepala.

Keempat, tokoh Putri Makyong hampir sama pakaiannya dengan pakaian Makyong, tetapi warnanya lebih muda atau cerah.

Kelima, tokoh Awang memakai kaos oblong putih atau gunting cina, warna seluarnya boleh berbeda dengan bajunya, berdagang luar kain pelekat, dengan atau tanpa ikat kepala.

Keenam, tokoh Mak Inang Pengasuh memakai baju kurung pendek, kain sarung, dan selendang yang diikat di dada.

Ketujuh, tokoh Dayang-dayang memakai pakaian seperti Putri Makyong dengan bahan dan warna yang lebih sederhana.

Kedelapan, tokoh Tata busana untuk pemeran Jin, Raksasa, Pembatak, Wan Perambun, dan lain-lain cukup dengan pakaian rakyat setempat, seperti teluk belanga atau memakai kaos oblong seperti si Awang.

Semua tokoh yang dimainkan oleh pria memakai topeng yang disesuaikan dengan wataknya. Khusus untuk Mak Inang Pengasuh, peran dipegang oleh seorang pria yang memakai topeng putih dan bersanggul. Topeng juga dikenakan oleh pemeran hewan seperti harimau, gajah, garuda, burung, ular, naga, ikan, dan lain-lain.

Topeng yang biasa digunakan dalam pertunjukan Makyong ialah topeng Datuk Betara Guru atau Wak Petela Guru, Wak Petala Siu (guru si raja jin), Awang Pengasuh, Wak Petanda Raja (punggawa), Inang Tua, Apek atau Cina Tua, Mamak atau rakyat, Wak Perambun, Jin Kafri Gangga, dan Pembatak. Topeng yang masih dimiliki kelompok Makyong Mantang Arang ialah topeng Datuk Betara Guru berwarna putih, topeng Wak Perambun berwarna hijau, topeng Wak Petanda Raja berwarna merah, dan topeng Jin Kafri Gangga. Semua topeng tersebut dapat digunakan dalam berbagai cerita Makyong.

Properti dalam pementasan Makyong tidak disiapkan secara khusus, kecuali sebuah bilai yang dibuat dari bambu yang dibelah tujuh. Bilai ini selalu dibawa oleh raja (Pakyong) dan pangeran (Pakyong Muda) yang digunakan untuk memukul Awang (pengasuh) bila terlambat datang ketika dipanggil atau ketika Awang mengkritik dengan tajam. Properti lainnya ialah sepotong kayu bengkok yang dipakai Awang untuk menarik leher teman bermainnya yang sederajat.

Penutup

Nah, itulah pembahasan mengenai seni teater mak ong mulai dari sejarah teater mak yong, pertunjukan teater mak yong, cerita teater mak yong, tokoh teater mak yong, bahkan sampai busana dan properti yang digunakan pada teater mak yong, yang dapat saya sampaikan dalam artikel ini. Terima kasih, karena telah meluangkan waktu untuk sekadar membaca artikel ini.

Semoga saja dengan adanya artikel ini, bloggerzar dapat memberikan manfaat bagi anda sekalian. Dan semoga melalui artikel ini pula, juga dapat menambah wawasan serta pengetahuan anda.

Mohon maaf apabila ada kata-kata yang kurang berkenan di hati sobat dalam penulisan artikel ini. Sampai jumpa lagi di lain kesempatan, tentunya pada artikel-artikel saya selanjurnya. Sekian dan Terima kasih.

Posting Komentar untuk "Teater Mak Yong Mulai Dari Sejarah Sampai Busana dan Properti"