Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Berpikir Sinkronik dan Diakronik Melalui Pendekatan Multidimensional

Berpikir Sinkronik dan Diakronik Melalui Pendekatan Multidimensional
Sebelumnya kita sudah mengetahui perbedaan konsep berpikir sinkronis dan diakronis secara umum. Pada artikel ini kita masih akan membahas konsep berpikir sinkronis dan diakronis yaitu melalui pendekatan multidimensional. 

Pendekatan Multidimensional

Dalam ilmu sejarah kerangka berpikir sinkronis juga diperlukan untuk melengkapi pemahaman yang lebih baik. Dalam ilmu sejarah hal ini dikenal dengan pendekatan multidimensional. Pendekatan multidimensional dipelopori oleh Sartono Kartodirdjo.

Baca Juga: Perbedaan Sejarah dan Prasejarah

Dalam pendekatan multidimensional ini selain memandang sejarah sebagai proses yang dinamis, juga memperhatikan berbagai aspek dalam kehidupan sosial dalam peristiwa sejarah senantiasa juga diikuti oleh perubahan aspek-aspek lain disekitarnya.

Dengan mempelajari sejarah secara multidimensional, maka akan tampak rangkaian peristiwa yang saling terkait antara satu aspek dengan aspek lainnya, sehingga semakin memperjelas keunikan dari setiap peristiwa sejarah. Oleh karena itu, untuk mengungkapkan berbagai dimensi kehidupan masyarakat pada masa lampau, sejarah memerlukan pendekatan dan konsep-konsep ilmu sosial lainnya.


Dalam perkembangan pendekatan multidimensional muncul dua pendekatan baru dalam ilmu sejarah, yaitu sejarah naratif dan sejarah non naratif. Sejarah naratif adalah ilmu yang mengungkapkan sesuatu yang telah terjadi pada kurun waktu tertentu, sehingga tersusun dalam sebuah cerita. Sedangkan sejarah non naratif adalah ilmu yang lebih berfokus pada masalah (problem oriented) dengan meminjam konsep-konsep ilmu sosial lainnya, untuk mengungkapkan berbagai dimensi pada sebuah kenyataan sejarah pada masa lampau.

Baca Juga: Pengertian Manfaat dan Unsur Sejarah

Sejarah naratif lebih banyak berkisah tentang aspek kehidupan politik pada masa lampau, sedangkan sejarah non naratif lebih berfokus pada kehidupan sosial, budaya dan ekonomi pada masa lampau. Dengan demikian terjadi proses Demokratisasi dalam ilmu sejarah.

Jika sejarah naratif yang berfokus pada aspek politik banyak berbicara tentang tokoh-tokoh elit, maka sejarah non naratif juga mengungkapan kehidupan masyarakat kecil dan orang-orang kebanyakan.

Nah, itulah sedikit materi kelanjutan dari perbedaan konsep berpikir sinkronis dan diakronis yaitu konsep melalui pendekatan multidimensional, semoga bermanfaat dan dapat menambah wawasan. Silahkan pantau terus BloggerZar karena akan banyak materi-materi yang dapat membantu tugas sekolah maupun kuliah dan bisa didapatkan secara gratis, terima kasih.

Posting Komentar untuk "Berpikir Sinkronik dan Diakronik Melalui Pendekatan Multidimensional "